“Mengapa Perusahaan Perlu Memperhatikan
Perilaku Konsumen”
Nama : Evi Wijayanti
NPM : 12211538
Jurusan
: Manajemen
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS GUNADARMA
2014
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah
SWT yang telah memberikan berbagai macam nikmat terutama nikmat islam, iman,
dan nikmat sehat jasmani maupun rohani, atas segala rahmat dan hidayah-Nya
sehingga penulis dapat menyelesaikan paper dengan judul “Mengapa Perusahaan Perlu Memperhatikan Perilaku Konsumen” ini
tepat pada waktunya. Shalawat serta salam semoga tercurah kepada junjungan kita
Nabi Besar Muhammad SAW, serta keluarganya, para sahabat dan seluruh umatnya.
Paper ini berisikan tentang perilaku-perilaku
konsumen yang terjadi di dalam masyarakat terhadap segmentasi pasar yang dibuat
oleh produsen beserta pemilihan produk dan karakteristik tempat dan beberapa
penjabaran contoh kasus yang kerap dialami oleh masyarakat luas.
Dengan demikian kiranya penulis berharap agar
paper yang sederhana ini dapat ikut ambil bagian dalam menumbuh kembangkan
aspek informasi dan pengetahuan kita semua. Tentunya penulis menyadari bahwa
paper ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu saran dan kritik dari
pembaca senantiasa penulisi harapakan untuk perbaikan di kemudian hari.
Akhir kata, penulis mengucapkan terima kasih
kepada semua pihak yang telah berperan serta dalam penyusunan paper ini baik
secara moril maupun materiil.
Depok,
15 Januari 2014
Penulis
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Faktor-faktor
demografis merupakan dasar-dasar yang paling sering digunakan bagi pemangsaan
pasar, pertama karena mereka mudah diukur dan kedua, karena mereka dipandang
sebagai teristimewa penting dalam membeda-bedakan pasar. Faktor-faktor demografis meliputi :
wilayah, usia, jenis kelamin, pendidikan, status, pekerjaan, penghasilan, agama, dan ras. Masing-masing dapat
bermanfaat dalam pemangsaan pasar bagi produk-produk tertentu.
Wilayah adalah sebuah daerah yang dikuasai atau menjadi territorial dari sebuah kedaulatan. Pemangsaan pasar atas
dasar Wilayah bagi seorang produsen adalah untuk memasarkan produk yang
dihasilkan oleh perusahaan. Pemangsaan pasar atas dasar Usia calon-calon pembeli adalah penting bagi banyak produk,
terutama yang dirancang tersendiri bagi pangsa-pangsa pasar tertentu. Sebagai
contohnya, beberapa merk butir-butiran untuk hidangan pagi dimaksudkan untuk
memenuhi selera anak-anak, sedangkan merk-merk lain dimaksudkan agar menarik
bagi konsumen-konsumen dalam cakupan usia yang lebih luas. Pemangsaan pasar
atas dasar Jenis kelamin adalah
untuk memasarkan produknya, misalnya pakaian, kosmetik, dan majalah. Banyak
perusahaan kosmetika, yang mengembangkan produk parfum yag hanya ditujukan
kepada para wanita atau kaum pria saja. Pemangsaan pasar atas dasar pendidikan
adalah untuk mengarahkan suatu kelompok kunsumen dengan tingkat pendidikan umum
yang khusus. Misalnya, “Putih abu-abu” dan majalah film ditujukan kepada para
lulusan SMP dan diatasnya. Pemangsaan pasar atas dasar Status adalah pasar dapat disegmetasi menjadi kelompok bukan
pengguna, mantan pengguna, pengguna potensial, pengguna pertama kali, dan
pengguna regular dari suatu produk, pemimpin pemasaran akan memfokuskan pada
cara menarik pengguna saat ini agar meninggalkan pemimpin pemasaran. Pemangsaan
pasar atas dasar Pekerjaan adalah
penting bagi produk-produk yang dikonsumsi dalam cara-cara yang bertalian
dengan pekerjaan. Pembelian alat-alat atau perlengkapan untuk kerja dan baju
seragam atau pakaian khusus merupakan kasus-kasus yang diperbincangkan.
Pemangsaan pasar atas dasar Penghasilan adalah
suatu dasar penting bagi pemangsaan pasar, tetapi penggunaanya telah dibatasi
dengan dua alasan : ia sulit diukur, dan sering kali berkolerasi amat tinggi
dengan penghasilan, yang mudah diukur. Agama
adalah suatu dasar pemangsaan penting didaerah-daerah terbatas tertentu,
kebutuhan-kebutuhan akan makanan khusus, dan minuman-minuman larangan,
berpengaruh atas penstrukturan suatu pasar. Beberapa tahun lalu timbul
perhatian besar terhadap potensi Ras (terutama yang berkulit hitam)
sebagai suatu dasar bagi pemangsaan pasar tetapi penelitian telah menunjukan
bahwa kecuali karena beberapa perbedaan fisik nyata yang dicerminkan dalam
keaneka-ragaman produk yang ditemukan dalam koemetik dan produk-produk
pemeliharaan rambut, tidak hanya pangsa yang ditentukan bedasarkan ras. Banyak
perbedaan lebih baik diterangkan berdasarkan penghasilan, meskipun beberapa
pilihan makanan.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar
belakang diatas, maka kami dapat mengidentifikasikan masalah yakni sebagai
berikut :
- Bagaimana cara memahami
perilaku konsumen tentang pandangannya akan segmentai pasar akan produk yang
ada?
- Pendekatan-pendekatan
apa saja yang sebaiknya dilakukan agar kita dapat memahami seluk beluk perilaku
konsumen?
- Faktor-faktor
apa saja yang mempengaruhi konsumen dalam memilih suatu produk ?
1.3 Tujuan
Penulisan
Tujuan dari penulisan ini
ialah untuk mengetahui kecenderungan perilaku konsumen dalam menyikapi suatu
produk dan juga untuk mengetahui cara dan metode terbaik dalam pemahaman akan
perilaku konsumen itu sendiri sehingga para pebisnis dan juga wirausahawan
dapat menempatkan strategi terbaik dalam segmentasi pemasaran produk mereka
agar diminati oleh konsumen.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Kerangka Teori
2.1.1
Pengertian Perilaku Konsumen
Perilaku konsumen merupakan suatu proses dan
aktivitas ketika seseorang berhubungan dengan pencarian, pemilihan, pembelian, penggunaan,
serta pengevaluasian produk dan jasa demi memenuhi kebutuhan dan keinginan.
Perilaku konsumen merupakan hal-hal yang
mendasari konsumen untuk membuat keputusan pembelian. Untuk barang berharga
jual rendah (low involvement) proses pengambilan keputusan dilakukan dengan
mudah, sedangkan untuk barang berharga jual tinggi (high involvement) proses
pengambilan keputusan dilakukan dengan pertimbangan yang matang.
Perilaku konsumen adalah aktivitas seseorang saat mendapatkan, mengkonsumsi, dan membuang barang atau jasa (Blackwell, Miniard,
& Engel, 2001). perilaku konsumen sendiri dapat di definisikan sebagai
interaksi dinamis dari pengaruh dan kesadaran, perilaku, dan lingkungan dimana
manusia melakukan pertukaran aspek hidupnya. Dengan kata lain perilaku
konsumen mengikutkan pikiran dan perasaan yang dialami manusia dan aksi yang
dilakukan saat proses konsumsi.
Perilaku konsumen menitikberatkan pada aktivitas yang berhubungan
dengan konsumsi dari individu. Perilaku konsumen berhubungan dengan alasan dan
tekanan yang mempengaruhi pemilihan, pembelian, penggunaan, dan pembuangan
barang dan jasa yang bertujuan untuk memuaskan kebutuhan dan keinginan pribadi.
Berdasarkan definisi di atas dapat disimpulkan bahwa perilaku
konsumen adalah tindakan-tindakan yang dilakukan oleh individu, kelompok atau
organisasi yang berhubungan dengan proses pengambilan keputusan dalam
mendapatkan, menggunakan barang-barang atau jasa ekonomi yang selalu berubah
dan bergerak sepanjang waktu.
Menurut Handi Irawan, Perilaku Konsumen Indonesia dikategorikan
menjadi sepuluh, yaitu :
1. Berpikir jangka pendek (short term perspective), ternyata
sebagian besar konsumen Indonesia hanya berpikir jangka pendek dan sulit untuk
diajak berpikir jangka panjang, salah satu cirinya adalah dengan mencari yang
serba instant.
2. Tidak terencana (dominated by unplanned behavior). Hal
ini tercermin pada kebiasaan impulse buying, yaitu membeli produk yang
kelihatan menarik (tanpa perencanaan sebelumnnya).
3. Suka berkumpul.
Masyarakat Indonesia mempunyai kebiasaan suka berkumpul (sosialisasi). Salah satu indicator terkini adalah situs social
networking seperti Facebook dan Twitter sangat diminati dan digunakan secara
luas di Indonesia.
4. Gagap teknologi (not adaptive to high
technology). Sebagian besar konsumen Indonesia tidak begitu
menguasai teknologi tinggi. Hanya sebatas pengguna biasa dan hanya
menggunakan fitur yang umum digunakan kebanyakan pengguna lain.
5. Berorientasi pada konteks (context,
not content oriented). Konsumen kita cenderung menilai dan memilih
sesuatu dari tampilan luarnya. Dengan begitu,konteks-konteks yang meliputi
suatu hal justru lebih menarik ketimbang hal itu sendiri.
6. Suka buatan Luar Negeri (receptive to
COO effect). Sebagian konsumen Indonesia juga lebih menyukai produk luar
negeri daripada produk dalam negeri, karena bisa dibilang kualitasnya juga lebih bagus dibanding produk di Indonesia.
7. Beragama (religious). Konsumen
Indonesia sangat peduli terhadap isu agama. Inilah salah satu karakter khas
konsumen Indonesia yang percaya pada ajaran agamanya. Konsumen akan lebih percaya
jika perkataan itu dikemukakan oleh seorang tokoh agama, ulama atau pendeta.
Konsumen juga suka dengan produk yang
mengusung simbol-simbol agama.
8. Gengsi (putting prestige as important
motive). Konsumen Indonesia amat getol dengan gengsi. Banyak yang ingin
cepat naik “status” walau belum waktunya. Saking pentingnya urusan gengsi ini,
mobil-mobil mewah pun tetap laris terjual di negeri kita pada saat krisis
ekonomi sekalipun. Menurut Handi Irawan D,ada tiga budaya yang menyebabkan
gengsi. Konsumen Indonesia suka bersosialisasi sehingga mendorong orang untuk
pamer. Budaya feodal yang masih melekat sehingga menciptakan kelas-kelas sosial
dan akhirnya terjadi “pemberontakan” untuk cepat naik kelas. Masyarakat
kita mengukur kesuksesan dengan materi dan jabatan sehingga mendorong untuk saling pamer.
9. Budaya lokal (strong in subculture).
Sekalipun konsumen Indonesia gengsi dan menyukai produk luar negeri,
namun unsur fanatisme kedaerahan-nya ternyata cukup tinggi. Ini bukan
berarti bertentangan dengan hukum perilaku yang lain.
10. Kurang peduli lingkungan (low consciousness towards environment).
Salah satu karakter konsumen Indonesia yang unik adalah kurangnya kepedulian
mereka terhadap isu lingkungan. Tetapi jika melihat prospek kedepan kepedulian
konsumen terhadap lingkungan akan semakin meningkat, terutama mereka yang
tinggal di perkotaan begitu pula dengan kalangan menengah atas relatif lebih
mudah paham dengan isu lingkungan. Lagi pula mereka pun memiliki daya beli
terhadap harga premium sehingga akan lebih mudah memasarkan produk dengan tema
ramah lingkungan terhadap mereka.
2.1.2
Pendekatan
Perilaku Konsumen
Teori tingkah laku
konsumen dapat dibedakan dalam dua macam pendekatan yaitu:
Pendekatan nilai guna (Utility) Kard
Pendekatan nilai guna Ordinal
Pendekatan nilai guna
(Utility) Kardinal
Pendekatan nilai guna
(Utility) Kardinal atau sering disebut dengan teori nilai subyektif : dianggap
manfaat atau kenikmatan yang diperoleh seorang konsumen dapat dinyatakan secara
kuantitif / dapat diukur, dimana keseimbangan konsumen dalam memaksimumkan kepuasan
atas konsumsi berbagai macam barang, dilihat dari seberapa besar uang yang
dikeluarkan untuk membeli unit tambahan dari berbagai jenis barang akan
memberikan nilai guna marginal yang sama besarnya. Oleh karena itu keseimbangan
konsumen dapat dicari dengan pendekatan kuantitatif.
Kepuasan seorang
konsumen dalam mengkonsumsi suatu barang dapat diukur dengan satuan kepuasan.
Misalnya: mata uang.
Setiap tambahan satu
unit barang yang dikonsumsi akan menambah kepuasan yang diperoleh konsumen
tersebut dalam jumlah tertentu.
Kepuasan marginal
(marginal utility). Tambahan kepuasan yang diperoleh dari penambahan jumlah
barang yang dikonsumsi. Hukum tambahan kepuasan yang semakin menurun (The Law
of Diminishing Marginal Utility). Besarnya kepuasan marginal akan selalu
menurun dengan bertambahnya jumlah barang yang dikonsumsi secara terus menerus.
Pendekatan nilai guna ordinal
Pendekatan nilai guna
ordinal atau sering juga disebut analisis Kurva indeference : manfaat yang
diperoleh masyarakat dari mengkonsumsikan barang-barang tidak kuantitif / tidak
dapat diukur. Pendakatan ini muncul karena adanya keterbatasan - keterbatasan
yang ada pada pendekatan cardinal, meskipun bukan berarti pendekatan cardinal
tidak memiliki kelebihan.
Kelemahan pendekatan
ordinal
Kepuasan konsumen dari
mengkonsumsi barang dapat diukur dengan satuan kepuasan. Pada kenyataannya
pengukuran semacam ini sulit dilakukan.
Persamaan kardinal dan
ordinal
Persamaan cardinal dan
ordinal yaitu sama-sama menjelaskan tindakan konsumen dalam mengkonsumsi
barang-barang yang harganya tertentu dengan pendapatan konsumen yang tertentu
pula agar konsumen mencapai tujuannya (maximum utility).
Perbedaan kardinal dan
ordinal
Nilai guna (Utility)
Kardinal menganggap bahwa besarnya utility dapat dinyatakan dalam
bilangan/angka. Sedangkan analisis ordinal besarnya utility dapat dinyatakan
dalam bilangan / angka.
Analisis cardinal
mengunakan alat analisis yang dinamakan marginal utility (pendekatan marginal).
Sedangkan analisis ordinal menggunakan analisis indifferent curve atau kurva
kepuasan sama.
2.1.3 faktor-faktor yang mempengaruhi konsumen dalam membeli
suatu produk
1. Kebutuhan
Kebutuhan akan teknologi komunikasi sekarang ini sangat penting bagi
konsumen, karena ini dapat memberikan kemudahan dalam berbagai hal di zaman
yang serba teknologi sekarang ini.
2. Kualitas
barang
Para konsumen sangat memperhatikan kuliatas akan barang yang ditawarkan,
semakin bagus kualitas suatu produk maka konsumen akan semakin senang atas
produk tersebut.
3. Harga
Harga juga menjadi pertimbangan bagi konsumen sebelum membeli produk yang
sesuai dengan keinginan dan harga yang terjangkau akan sangat memuaskan para
konsumen.
4. Manfaat
Produk yang akan dibeli harus mempunyai manfaat yang banyak bagi penggunanya dalam kehidupan
sehari-hari.
5. Iklan
Dalam memproduksi handphone ini, para produsen gencar mempromosikannya
melalui iklan baik di media elektronik maupun media cetak, sehingga para konsumen
dapat mengetahui produk handphone tersebut.
Berdasarkan uraian beberapa faktor yang mempengaruhi
konsumen dalam membeli suatu produk, penulis memberikan contoh kasus sebagai berikut :
1. Produk Camera Pocket
kamera
digital bukan sebuah perkara yang mudah, sering kali kita hanya tahu merek dan mendengar dari teman
ataupun saudara akan sebuah reputasi suatu kamera digital. Seringkali apa yang
kita inginkan tidak sama dengan kenyataan di lapangan, ketika kita memutuskan
untuk membeli kamera atau lensa. Ada dua hal yang menyebabkan anda bingung
dalam menentukan pilihan; pertama, Sebabkan
ketidak tahuan kita akan sederet kode atau istilah-istilah yang tertera pada
brosur ataupun kotak pembungkus. Kedua, Bujukan
ala marketing bahwa A lebih bagus dari B, dan seterusnya.
2. Fashion
Pada perkembangan zaman saat ini menuntut konsumen
bersikap pintar, cermat, efisien dan efektif dalam memilih produk yang
diinginkan salah satunya adalah fashion. Pakaian sebagai kebutuhan pokok bagi masyarakat dan
konsumen menjadikan pakaian sebagai kebutuhan mewah untuk bergaya.
Gaya berpakaian merupakan milik “personal” yang saling berkorelasi pada
lingkungan politik, sosial, dan kultural. Beragam ideologi terbungkus oleh tema
atau isu, melekat pada sehelai pakaian, bertujuan personal, komunitas, dan
industri. Konteks nyaman memberikan label dan identitas seseorang pada tatanan
social.
Pada dimensi lain, konteks “nyaman” memiliki batasan berbeda bagi setiap personal. Konteks kenyamanan inilah yang membuat konsumen memilih suatu prosuk tersebut. Fashion dapat sangat bervariasi dalam suatu masyarakat menurut umur, kelas sosial, generasi, pekerjaan, dan geografi serta dari waktu ke waktu. Jika, misalnya, pakaian orang yang lebih tua sesuai dengan gaya anak muda, ia mungkin tampak konyol di mata kedua muda dan orang tua. Dunia fashion tidak mudah untuk diprediksi. Tiap generasi, tiap dekade, tiap tahun dan bahkan tiap musim memiliki ciri khas dan karakter yang berbeda.
Pada dimensi lain, konteks “nyaman” memiliki batasan berbeda bagi setiap personal. Konteks kenyamanan inilah yang membuat konsumen memilih suatu prosuk tersebut. Fashion dapat sangat bervariasi dalam suatu masyarakat menurut umur, kelas sosial, generasi, pekerjaan, dan geografi serta dari waktu ke waktu. Jika, misalnya, pakaian orang yang lebih tua sesuai dengan gaya anak muda, ia mungkin tampak konyol di mata kedua muda dan orang tua. Dunia fashion tidak mudah untuk diprediksi. Tiap generasi, tiap dekade, tiap tahun dan bahkan tiap musim memiliki ciri khas dan karakter yang berbeda.
3.
Produk makanan Fast Food
Saya memilih rumah makan “Ayam Penyet Margo Pedes
Gila” karena rasa yang nikmat dan cocok bagi yang menyukai makanan pedas. Pedas
Gila adalah masakan asli buatan Indonesia, bukan merupakan franchise dari
luar negeri seperti kebanyakan makanan fast food yang ada. Harga yang ditawarkan tidak terlalu mahal. Makanan ini memang menjadi fenomenal saat pertama
kali muncul. Untuk menikmatinya banyak orang yang rela antri di kiosnya. Sampai
sekarang pun, makanan ini masih memikat para pengunjungnya sehingga terus
menjadi tujuan bagi pecinta makanan pedas.
BAB III
PENUTUP
3.1
Kesimpulan
Perilaku konsumen adalah proses dan aktivitas
ketika seseorang berhubungan dengan pencarian, pemilihan, pembelian,
penggunaan, serta pengevaluasian produk dan jasa demi memenuhi kebutuhan dan
keinginan.
Perilaku konsumen merupakan hal-hal yang
mendasari konsumen untuk membuat keputusan pembelian. Untuk barang berharga
jual rendah (low involvement) proses pengambilan keputusan dilakukan dengan
mudah, sedangkan untuk barang berharga jual tinggi (high involvement) proses
pengambilan keputusan dilakukan dengan pertimbangan yang matang.
Perilaku konsumen sendiri dapat di definisikan sebagai interaksi
dinamis dari pengaruh dan kesadaran, perilaku, dan lingkungan dimana manusia
melakuk.an pertukaran aspek hidupnya. Dalam kata lain perilaku konsumen
mengikutkan pikiran dan perasaan yang dialami manusia dan aksi yang dilakukan
saat proses konsumsi.
Berhubungan dengan segmentasi pasar yang dilakukan oleh produsen
dalam menciptakan inovasi dan pembaruan terhadap suatu produk, hal itu
merupakan kemudahan untuk konsumen dalam memilih dan mempertimbangkan produk
yang dipilihnya sesuai dengan segi demografis yang dimilikinya.
DAFTAR
PUSTAKA






0 komentar:
Posting Komentar